Kisah ini terjadi sekitar awal tahun 2013. Waktu itu aku sedang melakukan tugas risalah di KPH Balapulang, BH Larangan. Pagi yang indah dengan kondisi cuaca cerah, awal hari yang sangat luar biasa untuk melaksanakan pekerjaan sangat melelahkan yang sudah menanti di petak 72.
Untuk mencapai petak 72 saya harus berjalan
kurang lebih 5 Km. Cuaca yang terik membuat saya dan anggota lain terpaksa
harus berstirahat sejenak. Saya istirahat
di pinggir sungai sambil membagi tim untuk melakukan pekerjaan.
Kebetulan
saya mendapatkan tugas untuk menyeket alur AG bersama teman saya dan satu
mandor daerah. Untuk menuju alur AG saya harus berjalan menyusuri sungai,
karena itu jalan pintas dan yang paling cepat untuk menuju lokasi. Jarak kelokasi sekitar 3 Km.
Sesampainya
di lokasi ujung alur AG, Saya mengambil GPS untuk menentukan titik ujung
alur AG. Tepat dibawah sebuah pohon besar terdapat sebuah Pal Kuno yang sudah
tidak jelas keterangan no Pal. Tapi menurut mandor pohon besar itulah ujung
dari alur AG. Kami pun mempersiapkan alat yang harus digunakan, sambil mengisi
tenaga. Kebetulan posisi alur menurun kebawah, sehingga
saya dapat melihat alur dengan jelas. Ternyata kondisi alur penuh dengan
semak belukar berupa alang-alang, tumbuhan kirinyu, dll menjadi tantangan
berikutnya.
Sekitar
10 menit berselang, saya dan anggota memulai perjalanan menyusuri alur AG. Awal
perjalanan sekitar 50 meter dengan kondisi aman. Ketika ada sebuah
cabang pohon yang menghalangi jalan dipotong oleh pak mandor, tiba- tiba datang
sekelompok tawon yang menyerang kami. Seketika
pula dengan reflek saya langsung menjatuhkan diri, hal itu saya lakukan supaya tawon tidak menyerang saya, tetapi ketika saya
lihat pak mandor tidak menjatuhkan diri melainkan malah berlari. Saat itu pula
terdengar suara teriakan kesakitan dari pak mandor. Ketika keadaan di sekitar
saya mulai tenang oleh kehadiran tawon, sayapun langsung menuju ke arah pak
mandor dengan membawa ranting-ranting pohon lamtoro, dan sayapun langsung
mengusir tawon tersebut dengan ranting . Alhamdulillah pak mandor tidak apa-apa walaupun ternyata pak mandor tersengat
lebah dibagian kepala, Ada sekitar 5 sengatan di kepala pak mandor.
Setelah
kondisi pak mandor dan kondosi sekitar aman, kamipun melanjutkan kerjaan. Sambil
berjalan menyusuri alur AG yang kondisi jalan semakin tidak bisa di lewati,
saya tiba-tiba kefikiran dengan hal yang barusan terjadi. Semakin lama fikiran
saya semakin negatif. Saya berusaha untuk melupakan hal tadi dengan ngobrol
ala mandor daerah sama pak mandor sambil terus merangsek masuk ke semak- semak.
GPS saya lihat dan arah jalannya benar. Saya terus melihat GPS untuk mengecek
arah alur. Supaya saya tidak tersesat dan salah jalan.
Sekitar
1 jam berjalan, Percaya atau tidak percaya, kamipun terpana dengan apa yang
sekarang terjadi. Ada sebuah ranting yang terpotong, dan ada sebuah sarang
lebah di ranting tersebut. Pak mandor melepas topinya dan mendekati ranting
tersebut. Sayapun kemudian bertanya sama pak mandor” Pak, bukannya ini jalan
yang kita lewati tadi??”. Kemudin pak mandor menjawab “ iya mas, ini jalan yang
waktu kita di serang lebah.”.seketika pula saya melihat GPS yang ada di tangan
saya. Terkejut saya melihat gambar sket yang ada di GPS, karena gambar yang
tergambar dalam GPS membentuk angka 8. Kemudian saya menunjukkan ke suatu arah
kepada pak mandor,” pak, 30 meter ke arah situ adalah ujung alur, yang waktu
pertama kita mulai dan tempat kita istirahat tadi!!”. Pak mandorpun tak
berfikir lama. Seketika pula pak mandor mengajak saya untuk kembali ke tempat
awal kita istirahat tadi. Di sana kamipun duduk termenung. Kemudian pak mandor
bercerita tentang hal yang barusan terjadi. Katanya disini sering terjadi hal
yang sama, yaitu kejadian tersesat atau bingung. Kata pak mandor juga, awal
kita tadi diserang tawon adalah sebuah pertanda
kalo kita tidak boleh melnjutkan perjalanan.
Seketika
pula saya kaget, karena tiba- tiba GPS saya bunyi “ tiiiiitttttttt”. Ternyata
bunyi itu menandakan kalau sinyal hilang. Semakin genting keadaan kami. Sayapun
memutuskan untuk kembali pulang.
Saat
sampai tengah perjalanan perbekalan kami yang berupa air minum habis. Tak berfikir
panjang kami pun berhenti sejenak di pinggir sungai dan mengambil air sungai
yang sangat jernih untuk diminum sekalian membuka perbekalan makan siang.
Dengan
keadaan lelah kami pun melanjutakan perjalanan menuju rumah pak mandor tanpa
membawa hasil pekerjaan pun.
“ Walaupun saya pulang dengan tangan
hampa saya tetap bersyukur, karena kejadian tadi adalah sebuah pembelajaran
alamyang tidak semua orang mendapatkan materi alam tersebut.”



